Kamis, 02 Februari 2012

Indahnya Berbaik Sangka (Husnudzan)

Hubungan baik antara manusia yang satu dengan yang lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya merupakan sesuatu yang harus diupayakan dengan sebaik-baiknya.  
Hal ini karena Allah SWT telah menggariskan bahwa mu’min itu bersaudara (QS 49: 10). Oleh sebab itulah segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Dan agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh zhan (berbaik sangka).

Oleh karena itu, apabila kita mendapatkan informasi negatif tentang sesuatu yang terkait dengan pribadi seseorang apalagi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun (pengecekan) terlebih dahulu sebelum mempercayai apalagi meresponnya secara negatif, Allah SWT berfirman yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS 49:6).

A.   Husnuzhan kepada Allah
Husnuzhan kepada Allah secara etimologi artinya berbaik sangka kepada Allah terhadap apa yang telah diterimanya, baik itu suatu yang baik atau yang buruk sekalipun, sekecil apapun rizki yang diperolehnya atau sesulit apapun keadaannya. Menurut terminologi ialah mencukupkan dengan apa yang telah menjadi bagiannya, setelah berikhtiar sesuai dengan kemampuannya yang disertai dengan kesungguhan serta ketawakkalan. Istilah ini husnuzhan kepada Allah "positive thinking" yaitu selalu berpikir positif terhadap rencana Allah. Musibah, bencana, kesulitan akan dipandang sebagai cobaan atau ujian yang harus dihadapi dengan sabar, ikhlas dan tawakal.
Husnuzhan kepada Allah hukumnya wajib yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti Allah menunda kesuksesan, belum berhasil apa yang diinginkan, memperoleh kegagalan dalam berkarya, mendapat musibah sakit atau kecelakaan, belum berprestasi di sekolah, sulit untuk memperoleh pekerjaan dan lain sebagainya. Semua itu harus dihadapi dengan sabar, tetap bertakwa dan terus berjuang dengan penuh optimis agar tidak menjadi kufur nikmat. Allah telah melimpahkan rahmat-Nya dan sumber keidupan di dunia tanpa batas untuk semua makhluk ciptaan-Nya, khususnya manusia, dan diturunkannya al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia agar tidak tersesat dalam mencari kenikmatan hidupnya.
Kesulitan hidup yang dialami seseorang tidak beruntung adalah bukan karena perbuatan Allah. Untung atau rugi adalah kita sendiri yang menciptakannya. Jika rugi (ketidak-beruntungan) bisa kita ciptakan maka untung (keberuntungan) ternyata bisa kita ciptakan. Ketimpangan atau kesimbangan kehidupan adalah bagaimana perbuatan kita sendiri. Allah Swt telah menyediakan fasilitas hidup di dunia. Allah Swt telah membimbing manusia ke arah yang lurus. Manusia telah diberikan mulut, tangan, kaki dan pikiran untuk diguakan semaksinmal mungkin untuk memperoleh kesejahteraannya.

B.   Sikap Husnuzhan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari
Sikap dan perilaku yang menunjukkan husnu zhan kepada Allah di antaranya adalah:
1.  Senantiasa tulus, tidak berguna saat memperoleh rizki yang tidak sesuai dengan harapan. Mensyukuri nikmat sekecil apapun dengan cara minimal mengucapkan "alhamdulillah" serta segera melaksanakan kewajibannya, seperti salat fardu dan beramal sholeh.
2.  Merasa senang jika melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan atau keberhasilan dan mengucapkan selamat atas keberhasilan orang lain dengan penuh haru dan bangga. Menghindari sikap dan perilaku menggunjing (ghibah) atau mencari-cari kesalahan orang lain serta berburuk sangka/curiga yang berlebihan kepada orang lain.
3.  Menunjukkan rasa iba/turut prihatin terhadap orang lain (khusus keluarga dekat) yang mendapatkan musibah atau kesulitan serta segera memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya.
4.  Pada saat mendapatkan musibah atau kesulitan, kembalikan kepada Allah, dan sabar serta berintrospeksi diri. Mohon ampun kepada-Nya dengan tidak mengurangi kesalahannya lagi dan salatlah sebagai media untuk memohon pertolongan-Nya.
5.  Beribadah, berkarya (beramal soleh) dan tetap berdoa. Allah akan mengabulkan permohonan/doa jika berdoa kepada-Nya dengan tetap melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
6.  Berserah diri kepada Allah dan menerima ujian atau cobaan dengan ikhlas serta berbuat kebajikan agar mendapat pahala di sisi-Nya.

C.   Husnuzhan terhadap diri sendiri
Husnuzhan terhadap diri sendiri adalah sikap dan perilaku orang beriman dan bertakwa kepada Allah, seperti menerima apa adanya dengan tetap berbaik sangka kepada Allah, tidak menyesali keadaan dan keberadaannya, misalnya mempunyai fisik tidak sempurna (cacat), nama yang menurutnya tidak bagus, jenis kelamin yang tidak diinginkan, keadaan orang tua yang tidak kaya, tidak memiliki kesempurnaan keluarga, atau kelemahan lainnya. Ia tetap bersyukur kepada Allah karena telah diciptakannya menjadi sebaik-baik makhluk (manusia) walaupun tidak sesempurna dengan orang kebanyakan, dan berterima kasih kepada orang tuanya, khususnya Ibu yang telah melahirkannya. Semua manusia di hadapan Allah adalah sama kecuali ketakwaannya. (QS. Al-Hujrat/49:13).
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada wajah-wajahmu, juga tidak pada tubuh-tubuhmu, tetapi Dia melihat pada hatiku." (HR. Imam Bukhari).
D.   Sikap Husnuzhan kepada diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari
Sikap dan perilaku orang beriman yang husnuzhan tehadap diri sendiri adalah:
1.  Menghargai apa yang sudah ada pada dirinya. Menghormati ayah dan ibunya walaupun keadaan fisik atau status sosialnya rendah.
2.  Senantiasa bekeja keras, sabar dan tawakal dalam upaya mengubah keadaan dirinya agar lebih baik lagi.
3.  Rajin belajar dengan memanfaatkan potensi yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya.
4.  Mencari dan meningkatkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya untuk bekal mempertahankan hidup (survive) dengan tidak bergantung kepada orang lain (mandiri)
5.  Menyayangi diri sendiri, tidak putus asa, tidak melakukan tindakan yang dapat merusak fisik dan jiwanya, seperti mabuk-mabukan, narkoba, mengurung diri, mengumpat, cemberut dan lain sebagainya.

E.   Husnuzhan tehadap orang lain
Husnuzhan tehadap sesama manusia adalah sikap dan perilaku orang beriman dan bertakwa yang senantiasa berprasangka baik terhadap sesama manusia. Ia memahami bahwa buruk sangka terhadap orang lain adalah dosa. (lihat QS. Al-Hujrat/49: 12).
Di dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari ada suka dan duka, susah dan senang selalu silih berganti. Kita pernah melihat teman, tetangga kita mengalami kebahagiaan dan banyak uang, atau kehidupannya selalu senang, kadang hati kita terusik dan berkata, "Pantaslah dia senang atau kaya, karena ia atau orang tuanya korupsi, curang atau kejahatan lainnya." Hal itu adalah sikap buruk sangka. Orang mukmin akan merasakan senang dan memberikan ucapan selamat bila orang lain mendapatkan kesuksesan, naik pangkat, memperoleh rizki yang melimpah. Ia menyadari bahwa sesama mukmin adalah bersaudara maka tidak pantas sesama mukmin saling mencurigai, bukankah sesama muslim itu bersaudara. (lihat QS. Al-Hujrat/49: 10).
F.   Sikap Husnuzhan kepada sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari
Sikap dan perilaku orang beriman yang husnuzhan terhadap sesama manusia di antaranya adalah:
1.  Menjauhi prasangka buruk kepada orang lain. Apabila mendapatkan isu (berita/gosip), wajib diricek kebenarannya. (QS. 49: 6)
2.  Menjauhi perbuatan intip-mengintip atau mencari-cari kesalahan orang lain, yaitu selalu ingin tahu sehingga orang tersebut menjadi malu dan susah. Hal ini dilarang oleh Allah Swt dan rasul-Nya. Hadis Nabi Muhammad saw. Yang artinya: "Jauhilah sikap prasangka, sebab prasangka itu peristiwa yang nista, jangan kamu intip mengintip, jangan singgung menyinggung (perasaan), jangan susah menyusahkan, jangan dengki mendengki, jangan bermarah marahan dan jangan bertolak-belakang, kamu semua adalah hamba Allah yang bersaudara." (HR. Imam Bukhari)
3.  Senang melihat orang lain jika mendapatkan kebahagiaan atau keberhasilan. Ucapkan selamat atas keberhasilan orang lain dengan penuh haru dan bangga.
4.  Menghindari sikap dan perilaku menguning atau mencari-cari kesalahan orang lain serta berburuk sangka/curiga yang berlebihan kepada orang lain, sehingga dapat terhindar dari terjadinya konflik atau permusuhan.
5.  Menunjukkan rasa iba/turut prihatin terhadap orang lain (khusus keluarga dekat) jika mendapatkan musibah atau kesulitan, serta segera memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan. Paling tidak mendoakan agar tabah atau menasihati/menghiburnya dengan tausiah bahwa Allah Swt. Masih menyayanginya, karena Allah mempunyai rencana yang baik dari ujian tersebut.




FADHILAH DAN MANFAAT 
Ada banyak nilai dan manfaat yang diperoleh seorang muslim bila dia memiliki sifat husnuzh zhan kepada orang lain.
Pertama 
Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik, hal ini karena berbaik sangka dalam hubungan sesama muslim akan menghindari terjadinya keretakan hubungan. Bahkan keharmonisan hubungan akan semakin terasa karena tidak ada kendala-kendala psikologis yang menghambat hubungan itu.  
Kedua 
Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama. Karena buruk sangka akan membuat seseorang menimpakan keburukan kepada orang lain tanpa bukti yang benar, sebagaimana difirman Allah dalam Al-Qur'an (49: 6) di atas.


Ketiga 
Selalu berbahagia atas segala kemajuan yang dicapai orang lain, meskipun kita sendiri belum bisa mencapainya. Hal tersebut memiliki arti yang sangat penting, karena dengan demikian jiwa kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang pada dosa-dosa baru sebagai kelanjutannya. Ini berarti kebaikan dan kejujuran akan mengantarkan kita pada kebaikan yang banyak dan dosa serta keburukan akan mengantarkan kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar lagi dengan dampak negatif yang semakin banyak.

KERUGIAN BERBURUK SANGKA
Manakala kita melakukan atau memiliki sifat berburuk sangka, ada sejumlah kerugian yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Mendapat Nilai Dosa 
Berburuk sangka jelas-jelas merupakan dosa, karena disamping kita tanpa dasar yang jelas sudah menganggap orang lain tidak baik, berusaha menyelidiki atau mencari-cari kejelekan orang lain, juga akan membuat kita melakukan dan mengungkapkan segala sesuatu yang buruk tentang orang lain yang kita berburuk sangka kepadanya. Allah SWT berfirman yang artinya:  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa (QS 49: 12).   
Dusta Yang Besar 
Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi, karena apa yang kita kemukakan merupakan suatu dusta yang sebesar-besarnya, hal ini disabdakan oleh Rasulullah SAW:  
Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta (HR Muttafaqun 'alaihi).  
Menimbulkan Sifat Buruk 
Berburuk sangka kepada orang lain tidak hanya berakibat pada penilaian dosa dan dusta yang besar, tapi juga akan mengakibatkan munculnya sifat-sifat buruk lainnya yang sangat berbahaya, baik dalam perkembangan pribadi maupun hubungannya dengan orang lain, sifat-sifat itu antara lain ghibah, kebencian, hasad, menjauhi hubungan dengan orang lain, dll. Dalam satu hadits, Rasulullah SAW bersabda:  
Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke syurga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (HR Bukhari).   

LARANGAN BERBURUK SANGKA 
Karena berburuk sangka merupakan sesuatu yang sangat tercela dan mengakibatkan kerugian, maka perbuatan ini sangat dilarang di dalam Islam sebagaimana yang sudah disebutkan pada surat Al Hujurat/49 ayat 12 di atas. Untuk menjauhi perasaan berburuk sangka, maka setiap diri kita harus menyadari betapa hal ini sangat tidak baik dan tidak benar dalam hubungan persaudaraan, apalagi dengan sesama muslim dan aktivis da’wah. Di samping itu, bila ada benih-benih perasaan berburuk sangka di dalam hati, maka hal itu harus segera diberantas dan dijauhi karena ia berasal dari godaan syaitan yang bermaksud buruk kepada kita. Dan yang penting lagi adalah memperkokoh terus jalinan persaudaraan antarmuslim dan aktivis da’wah agar yang selalu kita kembangkan adalah berbaik sangka, bukan malah berburuk sangka.   
Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab ra menyatakan, "Janganlah kamu menyangka dengan satu katapun yang keluar dari seorang saudaramu yang mu’min kecuali dengan kebaikan yang engkau dapatkan bahwa kata-kata itu mengandung kebaikan."   
Demikian hal-hal pokok yang harus mendapat perhatian kita dalam kaitan dengan sikap husnuzhzhan (berbaik sangka).

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More