Jumat, 13 Februari 2015

KONSEP ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sebagai hasil dari pemikiran para filosuf, filsafat telah melahirkan berbagai macam pandangan dan aliran yang berbeda-beda. Pandangan-pandangan filosuf itu ada kalanya saling menguatkan dan ada juga yang saling berlawanan. Hal ini antara lain disebabkan oleh pendekatan yang mereka pakai juga berbeda-beda walaupun untuk objek dan masalah yang sama. Karena perbedaan dalam pendekatan itu, maka kesimpulan yang didapat juga akan berbeda. Perbedaan pandangan filsafat tersebut juga terjadi dalam pemikiran filsafat pendidikan, sehingga muncul aliran-aliran filsafat pendidikan.
Pendidikan memandang manusia sebagai obyek dan subyek. Dikatakan sebagai obyek karena manusia itu menjadi sasaran pendidikan, terutama dalam kapasitasnya sebagai makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, ciri dari sifat pertumbuhan dan perkembangan itu menjadi perhatian pendidikan untuk dipengaruhi dan diarahkan. Sedangkan dikatakan sebagai subyek karena dengan potensinya manusia mempunyai daya untuk pengembangan diri yang seterusnya menjadi makhluk yang berkepribadian dan berwatak.
Sesuai dengan pernyataan di atas, maka pada makalah ini akan dijelaskan mengenai konsep aliran filsafat pendidikan progresivisme serta impikasinya terhadap peserta didik dalam pendidikan.

B.     Rumusan Masalah
  1. Bagaimana konsep aliran filsafat pendidikan progresivisme itu?
  2. Siapa saja tokoh-tokoh aliran filsafat pendidikan progresivisme itu?
  3. Bagaimana implikasinya terhadap peserta didik dalam pendidikan?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Aliran Filsafat Progresivisme
Pengertian dasar yang menjadi ciri dari aliran ini adalah progres yang berarti maju.[1]Selama 20 tahunan merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat.[2] Mengapa di Amerika Serikat?. yaitu karena filsafat pendidikan progresivisme lahir di Amerika Serikat.[3] Aliran progresivisme berkembang dengan pesat pada permulaan abad XX dan sangat berpengaruh dalam pembaharuan pendidikan. Pengaruh itu terasa di seluruh dunia, terlebih lagi di Amerika Serikat. Pandangannya selalu dihubungkan dengan pandangan hidup liberal “The liberal road to culture” yang dimaksudkan dengan ini adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat fleksibel (tidak kaku), tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu, ingin mengetahui dan menyelidiki, toleran dan open minded(mempunyai hati terbuka).[4]
Walaupun kenyataannya aliran ini baru berkembang dengan pesat pada permulaan abad XX, namun garis linier dapat ditarik ke belakangnnya hingga pada zaman Yunani kuno. Hal ini dapat dibuktikan dengan tampilnya pemikiran dari Heraclitos (± 544 -  ± 484), Socrates (469-399), bahkan juga Protagoras mempengaruhi aliran progresivisme ini. Heraclitos mengemukakan bahwa sifat utama dan realita ialah perubahan. Tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini, semuanya berubah. Demikian pula Socrates, ia berusaha mempersatukan epistimologi dan aksiologi (teori ilmu pengetahuan dan teori nilai). Kemudian, Protagoras sebagai seorang sophis pernah mengajarkan bahwa kebenaran dan nilai-nilai bersifat relatif, yaitu tergantung waktu dan tempat.[5]
Adapun faktor-faktor pendorong lahirnya Progresivisme di USA adalah:[6]
a)      Semangat radikalisme dan reformasi yang dimulai di sekolah yang dipimpin oleh Francis W. Paker.
b)      Masuknya aliran frobelianisme, yang menekankan pada perwujudan diri melalui kegiatan sendiri, dan penggunaan metode Montessori yang menekankan pada pendidikan diri sendiri.
c)      Perluasan studi tentang perkembangan anak secara ilmiah (psikologi perkembangan).
Dasar filosofis aliran progresivisme ialah: (1) Realisme Spiritualistik; gerakan Pendidikan Progresif bersumber dari prinsip-prinsip spiritualistik dan kreatif dari Froebel dan Montessori serta ilmu baru tentang perkembangan anak, (2) Humamanisme Baru; paham ini menekankan pada penghargaan terhadap martabat dan harkat manusia sebagai individu. Dengan demikian orientasi dari aliran ini ialah individualistik.[7]
Ada beberapa karakteristik dari aliran proresivisme, antara lain yaitu:[8]
a)      Mempunyai konsep yang mempercayai manusia sebagai subyek yang memiliki kemampuan menghadapi dunia dan lingkungan hidupnya.
b)      Mempunyai kemampuan untuk mengatasi dan memecahkan masalah-masalah yang akan mengancam manusia itu sendiri.
c)      Pendidikan dianggap mampu untuk merubah dan menyelamatkan manusia demi untuk masa depan.
d)     Tujuan pendidikan selalu diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus dan bersifat progresif. Bahwa progres dan kemajuan, lingkungan dan pengalaman menjadi perhatian dari aliran progresivisme, tidak hanya berupa angan-angan dalam dunia ide, teori dan cita-cita saja melainkan harus dicari dengan mengfungsikan jiwa sehingga menghasilkan dinamika yang lain dalam hidup ini. Semuanya itu diperlukan oleh pendidikan agar orang dapatmaju dan berbuat sesuatu mampu mengadakan penyesuaian dengan lingkungan. Karenanya pendidikan di sini tidak hanya diartikan menyampaikan pengetahuan saja kepada peserta didik tetapi yang lebih penting lagi adalah melatih kemampuan berfikir dengan memberikan rangsangan-rangsangan dengan cara ilmiah.
e)      Tugas pendidikan menurut aliran ini ialah mengadakan penelitian atau pengamatan terhadap kemampuan-kemampuan manusia itu dan mengujinya dalam pekerjaan praktis atau dengan kata lain manusia hendaknya mengaktualisasikan ide-idenya dalam kehidupan nyata, berfikir dan berbuat.
f)       Aliran ini menolak otoritas dan absolutisme dalam segala bentuk, maka aliran ini kurang menyetujui adanya pendidikan yang  bercorak otoritas dan absolut dalam segala bentuk seperti terdapat dalam agama, moral, politik, dan ilmu pengetahuan.

B.     Para Tokoh Filsafat Pendidikan Progresivisme
Tokoh-tokoh yang terkemuka yang berperan menyebarkan aliran progresivisme antara lain, yaitu:
  1. John Dewey
  2. William H. Kilpatrick
  3. Boyd H. Bode
  4. Helen Parkhurst, dll.

C.    Pandangan Progresivisme Terhadap Peserta Didik dalam Pendidikan
Pandangan progresivisme tentang konsep belajar bertumpu pada pandangannya tentang anak didik.[9] Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered), atau bahan pelajaran (subject-centered).[10]
Yang dimaksud pendidikan berpusat pada anak menurut aliran progresivisme yaitu:[11]
v  Anak merupakan pusat dari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. Sebab mengajar yang bermutu berarti aktivitas siswa, pengembangan kepribadian siswa, studi ilmiah tentang pendidikan dan latihan guru sebagai seniman pendidikan.
v  Anak adalah unik. Pendidikan progresif sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam pendidikan. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil. Anak adalah anak, yang sangat bebeda dengan orang dewasa. Setiap anak mempunyai individualitas sendiri.
v  Anak mempunyai alur pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa. Dengan demikian anak harus diperlakukan berbeda dari oarang dewasa.
Seorang tokoh yang berpengaruh di Amerika Serikat John Dewey melalui “Sekolah Kerja” yang didirikannya mempraktikkan pandangan-pandanganya (mengenai aliran progresivisme) dalam dunia pendidikan. Pandangan tersebut mengenai kebebasan dan kemerdekaan peserta didik agar dapat mencapai tujuan pendidikan dalam pembentukan warga negara yang demokratis.[12]











BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

v  Pengertian dasar yang menjadi ciri dari aliran ini adalah progres yang berarti maju.Filsafat pendidikan progresivisme ini lahir di Amerika Serikat. Aliran progresivisme berkembang dengan pesat pada permulaan abad XX dan sangat berpengaruh dalam pembaharuan pendidikan.
v  Pandangann aliran ini selalu dihubungkan dengan pandangan hidup liberal “The liberal road to culture” maksudnya adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifatfleksibel (tidak kaku), tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu, ingin mengetahui dan menyelidiki, toleran dan open minded (mempunyai hati terbuka).
v  Tokoh-tokoh yang terkemuka yang berperan menyebarkan aliran progresivisme antara lain, yaitu: John Dewey, William H. Kilpatrick, Boyd H. Bode, dan Helen Parkhurst, dll.
v  Pandangan progresivisme terhadap pendidikan. Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered), atau bahan pelajaran (subject-centered).









DAFTAR PUSTAKA


Basuki As’adi & M. Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN PO PRESS, 2010) 
Barnadib, Imam, Dasar-Dasar Kependidikan; Memahami Makan & Perspektif Beberapa Teori Pendidikan (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996)
Pidarta, Made, Landasan Kependidikan; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia(Jakarta: Rineka Cipta, 1997)
Iman, Muis Sad, Pendidikan Partisipatif; Menimbang Konsep Fitrah dari Progresivisme John Dewey (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004)
Sadulloh, Uyoh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: CV. Alfabeta, 2003)
Djumransjah, Filsafat Pendidikan (Malang: Bayumedia Publishing2004)



[1] Imam Barnadib, Dasar-Dasar Kependidikan; Memahami Makan & Perspektif Beberapa Teori Pendidikan (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996)18.
[2] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: CV. Alfabeta, 2003) 141-142.
[3] Made Pidarta, Landasan Kependidikan; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia(Jakarta: Rineka Cipta, 1997) 91.
[4] Basuki As’adi & M. Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN PO PRESS, 2010) 25.
[5] Djumransjah, Filsafat Pendidikan (Malang: Bayumedia Publishing2004) 178-179.
[6] Basuki As’adi & M. Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN PO PRESS, 2010) 25-26.
[7] Ibid, 25-26.
[8] Ibid, 27-28.
[9] Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif; Menimbang Konsep Fitrah dari Progresivisme John Dewey (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004) 53.
[10] Basuki As’adi & M. Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN PO PRESS, 2010)  26-27.
[11] Ibid, 45.
[12] Ibid, 28-29.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More